KLIKMU.CO – SD Muhammadiyah 15 Surabaya (SDM Limas) menggelar kegiatan Recharging Guru dan Karyawan Limas Hebat pada Kamis (2/7/2026). Kegiatan ini menjadi upaya sekolah memperkuat kapasitas dan karakter pendidik dalam menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21.
Hadir sebagai narasumber Ferry Yudi Antonis Saputro SHI MPdI CSTMI, Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wiyung sekaligus Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya.
Mengusung tema Tantangan Pendidikan Muhammadiyah di Era VUCA, pembinaan mengajak seluruh guru dan tenaga kependidikan memahami perubahan yang ditandai dengan volatility (perubahan yang cepat), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas), dan ambiguity (ketidakjelasan).
Dalam pemaparannya, Ferry menegaskan bahwa guru Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi penyampai materi pembelajaran, tetapi juga harus menjadi pendidik yang membentuk karakter dan menjadi teladan bagi peserta didik.
“Guru Muhammadiyah bukan sekadar profesi, tetapi jalan dakwah dan amal saleh. Kita tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga menanamkan akidah, akhlak, serta nilai-nilai Islam Berkemajuan kepada generasi penerus bangsa,” ujarnya.
Menurut Ferry, perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (artificial intelligence), media sosial, dan arus informasi digital telah mengubah wajah pendidikan. Karena itu, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan.
“Di era sekarang, yang dibutuhkan bukan hanya guru yang pintar, tetapi guru yang mampu membimbing, mengarahkan, serta menanamkan nilai-nilai kehidupan. Teknologi boleh berkembang pesat, tetapi tidak akan pernah mampu menggantikan sentuhan kemanusiaan seorang guru,” tegasnya.
Dia juga menyoroti tantangan lain yang dihadapi pendidikan Muhammadiyah, mulai dari krisis keteladanan, menurunnya karakter peserta didik, hingga derasnya arus ideologi melalui media digital. Menurutnya, sekolah Muhammadiyah harus tetap menjadi benteng akidah sekaligus pusat lahirnya generasi Islam yang cerdas, berakhlak mulia, dan mampu memberikan solusi bagi persoalan umat serta bangsa.
Ferry menegaskan bahwa kekuatan pendidikan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad terletak pada perpaduan nilai tauhid, penguasaan ilmu pengetahuan, pembentukan akhlak, semangat amal sosial, serta orientasi pada kemajuan peradaban.
“Tujuan pendidikan Muhammadiyah bukan hanya mencetak peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga melahirkan manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, berkemajuan, dan bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia mengajak guru Muhammadiyah menjalankan lima peran strategis, yaitu sebagai murabbi (pendidik hati), mu’allim (pengajar ilmu), muaddib (penanam adab), mujaddid (pembaru), dan mujahid pendidikan yang menjadikan aktivitas mengajar sebagai bagian dari ibadah dan dakwah.
Untuk menghadapi era VUCA, Ferry menawarkan lima strategi utama, yakni memperkuat ideologi Muhammadiyah, meningkatkan kompetensi digital, menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari, membangun kolaborasi antara sekolah dan orang tua, serta menumbuhkan budaya belajar sepanjang hayat.
Ferry juga mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali spirit Surah Al-Ma’un dalam dunia pendidikan. Menurutnya, guru Muhammadiyah harus hadir untuk menguatkan peserta didik yang lemah, membimbing yang tertinggal, menumbuhkan kepedulian sosial, serta menjadikan ilmu sebagai jalan ibadah kepada Allah SWT.
Menutup pembinaan, Ferry mengajak seluruh peserta merefleksikan kembali peran dan pengabdiannya sebagai pendidik.
“Perubahan zaman tidak pernah menjadi ancaman bagi orang-orang yang memiliki iman, ilmu, dan semangat pembaruan. Tugas kita hari ini bukan sekadar mempertahankan sekolah Muhammadiyah, melainkan menjadikannya sebagai pusat lahirnya generasi Islam yang unggul, berkarakter, berkemajuan, dan siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri keislamannya,” pesannya.
Dia kemudian mengutip pesan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yang hingga kini tetap relevan sebagai ruh pengabdian setiap kader Persyarikatan.
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
Kegiatan yang diikuti seluruh guru dan karyawan SDM Limas ini dibuka oleh Kepala SDM Limas Mationo MA. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, yakni Atiko SS MM dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Ketua PCM Wiyung Suri Marzuki SE, serta Ferry Yudi Antonis Saputro SHI MPdI.
“Semoga kegiatan Recharging Guru dan Karyawan Limas Hebat ini memberikan manfaat sekaligus menambah semangat dalam menyongsong tahun ajaran baru 2026–2027,” ujarnya.
(Ali Shodiqin/AS)












