Kegiatan Motivasi Bina Iman siswa kelas 5 dan 6 SD Muhammadiyah 15 (Limas) Surabaya (Foto: Ali Shodiqin/PWMU.CO)
Kegiatan Motivasi Bina Iman siswa kelas 5 dan 6 SD Muhammadiyah 15 (Limas) Surabaya (Foto: Ali Shodiqin/PWMU.CO)

pwmu.co –

Janganlah menjadi seorang remaja yang suka ikut-ikutan tanpa punya prinsip. Jangan juga menjadi remaja remaja yang Tuhannya adalah game online, pujian teman, atau media sosial. Demikian motivasi yang diberikan pada siswa kelas 5 dan 6 SD Muhammadiyah 15 (Limas) Surabaya dalam Motivasi Bina Iman (MBI) di Aula Limas Tower gedung 2 SDM Limas, Kamis (30/04/2026).

“Jangan jadi remaja yang Tuhannya adalah Game Online, Pujian Teman, atau Media Sosial. Jika kamu lebih takut HP-mu hilang daripada kehilangan waktu salat, maka tauhidmu sedang dalam bahaya!” tegas Ketua MPKS PDM Kota Surabaya, ustadz Ferry Yudi Antonis Saputro, M.Pd.I.

Disebutkan bahwa Tauhid bukan hanya tahu bahwa Allah itu satu, tapi merasa bahwa Allah selalu mengawasi (Muraqabah) dan hanya Allah tempat bergantung (Ash-Shamad).

Menurut Ferry, surat Al-Ikhlas yang berada di urutan ke-112 dalam Alquran, menegaskan tauhid murni (keesaan Allah). Sebuah tauhid yang menolak kemusyrikan, dan menjelaskan sifat Allah yang Maha Sempurna.

“Surat ini setara dengan sepertiga Al-Qur’an karena isinya fokus pada pondasi akidah: Allah Maha Esa, tempat bergantung, tidak beranak/diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya.”

“Anak-anakku semua mari kita belajar dari keteguhan sahabat nabi yang mulia Bilal bin Rabah Radhiallahu Anhu. Bilal disiksa di padang pasir yang membara, dadanya ditindih batu hitam besar agar ia meninggalkan Islam. Namun, dari mulutnya hanya keluar satu kata: “Ahad… Ahad… atau Allah Maha Esa,” jelas Ferry.

Kisah Bilal membuktikan bahwa fisik boleh disiksa, tapi iman tidak bisa dipenjara. Tauhid membuat seseorang memiliki mental baja.

“Remaja berkualitas tidak akan ikut-ikutan atau fomo melakukan hal buruk hanya karena ingin diterima teman. Jika Bilal kuat menahan beban batu, masa kamu kalah hanya karena godaan ejekan teman saat ingin salat di masjid?” tegas ustadz Ferry disambut teriakan Allahu Akbar seluruh peserta.

Ferry juga mengajak para siswa untuk belajar dari kisah Thalhah bin Ubaidillah. Pada saat Perang Uhud, Ketika posisi Rasulullah terdesak, Thalhah menjadikan tubuhnya sebagai tameng. Ia terkena puluhan tusukan pedang dan panah, jari-jarinya lumpuh demi melindungi Nabi.

Tauhid, kata Ferry, melahirkan cinta yang luar biasa kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta inilah yang membuat kita ringan melakukan kebaikan. Pesan untuk Pelajar: “Remaja berkualitas itu mandiri dan siap berkorban. Jangan jadi remaja manja!”

Jika tauhid kokoh, akan lahir karakter remaja muslim berkualitas dengan 3S. S pertama, santun kepada orang tua dan guru. S kedua, Jika tauhid kokoh, akan lahir karakter remaja muslim berkualitas dengan 3S. S pertama, santun kepada orang tua dan guru. S kedua, semangat menuntut ilmu. S ketiga, Selalu jujur.

Sebelumnya, Kepala SDM Limas Mationo, M.A dalam pembukaan menyampaikan terimakasih kepada seluruh ustadz dan ustadzah yang telah mempersiapkan kegiatan ini dengan baik.

“Juga anak-anak ku semua kelas 5 dan 6 SDM Limas yang hadir penuh semangat, semoga usai mengikuti kegiatan ini semua bisa meningkat keimanan dan ketaqwaan,” seru Mationo di aula yang baru beberapa waktu lalu diresmikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Prof. Dr. Abdul Mu’ti M.Ed itu.

Dunia ini butuh remaja yang pintar, tapi dunia lebih butuh remaja yang jujur dan punya prinsip tauhid.

*) Penulis : Ali Shodiqin S.Ag. M.Pd.I | Editor : Muhkholidas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini