
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka mata kuliah Informatika Universitas Telkom Kampus Surabaya di Sekolah Inspiratif SD Muhammadiyah 15 Surabaya (SDM Limas) pada Jumat (21/11/2025) mengangkat tema AI Fun Learning: Pengenalan Kecerdasan Buatan dengan Aktif Interaktif untuk Anak SD.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh murid kelas 5 Buya Hamka SDM Limas dan dipandu dosen pembimbing, Dimas Chaerul Ekty Saputra SKom MSc PhD, yang akrab disapa Dimas. Ia mengajak siswa mengikuti kegiatan dengan penuh semangat.
“Mari kita mengenal kecerdasan buatan ini dengan keseruan dan tetap Islami,” ujarnya saat membuka acara.
Mahasiswa Telkom University yang terlibat adalah Neisyah Nurul Alyazara Ardiansyah, Agnes Destiny Sava S, Arina Qurrata Aini, dan Muh. Aggum Nias P. Dalam pelaksanaan kegiatan, Arin bertugas sebagai dokumentasi, mengabadikan proses pembelajaran dan interaksi bersama siswa.
Kegiatan dimulai oleh Neisyah yang membuka sesi dengan bersilaturahmi dan memperkenalkan rekan-rekannya kepada siswa kelas 5 Buya Hamka. Ia kemudian menjelaskan materi “Mengenal Kecerdasan Buatan dengan Cara Seru dan Islami”.
Neisyah menanyakan kepada siswa, “Adik-adik ada yang tahu apa itu kecerdasan buatan?”
Ia menjelaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) adalah teknologi yang dibuat manusia agar mesin bisa belajar dan bekerja seperti manusia. AI tidak memiliki perasaan atau kemauan, dan seluruh kemampuannya berasal dari data serta program buatan manusia. Karena itu, AI adalah alat pintar yang sangat membantu kehidupan sehari-hari.
Pada sesi berikutnya, Aggum menjelaskan bagaimana AI hadir di sekitar kita. Sambil menampilkan contoh di layar LCD, ia bertanya, “Adik-adik, siapa yang tahu manfaat AI dalam kegiatan kita sehari-hari?”
Aggum kemudian menjelaskan berbagai manfaat AI, mulai dari membantu belajar lebih cepat dan menyenangkan, melatih pola pikir dan pemecahan masalah, hingga mengenalkan teknologi sejak dini dengan cara yang positif dan Islami. Ia juga memberi contoh penggunaan AI di sekitar siswa seperti aplikasi Al-Qur’an digital, Google Assistant, dan kamera ponsel berbasis AI.
Dengan contoh-contoh tersebut, anak-anak semakin memahami bahwa AI tidak hanya hadir dalam robot canggih atau film, tetapi juga pada perangkat yang mereka gunakan setiap hari.
Setelah itu, Neisyah kembali menekankan pentingnya bijak menggunakan AI. Ia menyampaikan beberapa aturan anak hebat dalam menggunakan teknologi, antara lain menggunakan AI untuk belajar, bersikap sopan dalam menggunakan fitur suara, memahami bahwa teknologi hanyalah alat, hingga tidak membiarkan perangkat melalaikan kewajiban beribadah.
“Dengan aturan ini, anak-anak bisa tumbuh menjadi generasi yang pintar teknologi namun tetap berakhlak mulia,” ujar Neisyah sambil tersenyum.
Pada sesi permainan, Nessy memandu dua game utama yang membuat anak-anak antusias.
Pertama, tebak gambar AI. Murid diminta menebak mana gambar yang asli dan mana yang dihasilkan AI, seperti gambar Ka’bah, buah-buahan, dan anak mengaji.
Kedua, percobaan langsung teknologi AI. Melalui platform Educaplay untuk menebak gambar AI dan Quick, Draw! untuk menggambar cepat yang ditebak oleh AI.
Nessy memandu permainan ini dengan penuh energi sehingga suasana kelas sangat hidup.
Di akhir kegiatan, Neisyah menyampaikan bahwa mengenal AI tidak harus rumit. Dengan pendekatan yang seru dan Islami, anak-anak bisa belajar teknologi sambil tetap menjaga nilai agama.
“AI adalah alat bantu, dan kita sebagai manusia harus menggunakannya untuk kebaikan, pengetahuan, dan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah,” pesannya sebelum acara ditutup.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan dokumentasi oleh Arin, menandai suksesnya pengabdian masyarakat mahasiswa Telkom University di SDM Limas.
(Ali Shodiqin)










